SURABAYA HOTEL SCHOOL

School of Hotel Management

SHS Yang Pertama Menggunakan Program E-Hors

Untuk Pelatihan Hotel Management Information System Berbasis Web

Kuliah dengan waktu yang singkat mungkin membuat orang mempertanyakan kualitas lulusannya. Namun jika SURABAYA HOTEL SCHOOL pilihannya, Anda tak perlu meragukan itu semua. Mengapa demikian ?? SHS mempunyai materi padat & berkualitas, Instrukturnya adalah praktisi & professional yg berpengalaman di semua bidang perhotelan, teori diberikan dengan metode PBL (Problem Based Learning) dengan fasilitas Laptop + LCD Projector, serta praktek dilakukan secara individu/ perorangan dengan fasilitas praktek yg lengkap & baik. Tak heran jika dalam waktu singkat mahasiswa dapat menguasai banyak hal dengan kualitas lebih baik. Lamanya pendidikan bukan jaminan seseorang menguasai materi lebih baik. Ibarat makanan bergizi yg diolah oleh koki-koki professional maka hasilnya pasti akan lebih bagus dibandingkan makan banyak tapi tidak bergizi.

Biaya Murah Tapi Tidak Murahan, Didukung dengan Fasilitas Yang Lengkap

Biaya di SHS secara keseluruhan selama 1 tahun hanya Rp 7,2 juta. Semua biaya tersebut sudah termasuk seragam,buku diktat siswa, uang praktek, asuransi siswa, uang ujian dan biaya OJT. Fasilitas yg diberikan oleh SHS pada mahasiswanya adalah :

1.     Praktek banyak sekali (70%) bahan praktek disiapkan SHS. Mahasiswa tidak perlu bayar lagi biaya praktek (di sekolah lain praktek harus bayar & mahal).

2.     Ruang & Peralatan praktek lengkap, antara lain:

a.       Di SHS ada 4 ruang kitchen untuk praktek Food Product, Pastry Bakery, Japanese &
Dim  Sum.

b.       Ruang besar untuk praktek Making Bed.

c.       Ruang besar & exclusive untuk praktek Bar & Restaurant.

d.       Ruang Laboratorium computer untuk praktek FO, Accounting & praktek Hotel
Management Information System (HMIS) dengan program E-Hors berbasis WEB (SHS
adalah sekolah pertama di
Indonesia yg menggunakan program E-Hors). Lab
Computer bisa juga untuk praktek Telephone operator, Laboratorium Bahasa, praktek
internet, dll.

Kualitas SHS Bagus

Kualitas lulusan SHS diakui bagus oleh banyak Perusahan Dalam Negeri maupun International. Alumni selain sukses bekerja di Perusahaan dalam negeri ataupun International mereka juga banyak yang sukses membuka usaha sendiri. Beberapa faktor yg menjadikan lulusan SHS berkualitas,  karena :

1.    Instruktur adalah praktisi & professional yg berpengalaman, mumpuni, ahli di bidang masing2.

2.    Kurrikulum selalu “Up-Date” sesuai dengan kebutuhan industri (maaf bukan kurrikulum basi yg sudah kadaluwarsa).

3.    Setiap mahasiswa praktek sendiri2/ individual bukan berkelompok.

4.    Teori diberikan dengan metode PBL (Problem Based Learning) dengan fasilitas Laptop + LCD Proyektor, Instruktur lebih bersifat fasilitator. Mahasiswa lebih banyak diajak diskusi untuk memecahkan study kasus.

5.    Sejak awal mahasiswa diajak untuk ikut program casual/ part time/ paruh waktu agar mahasiswa bisa lebih terlatih menangani pekerjaan2 & bisa berinteraksi dengan tamu2.

6.     Mahasiswa SHS dengan mudah diterima training di perusahaan2 yg bagus & bonafide, kebanyakan mereka langsung direkrut oleh perusahaan tempat training tersebut. Banyak sekali yg berkarier dengan bagus & menduduki jabatan2 strategis di perusahaan tersebut.

7.    Banyaknya perusahaan2 dalam & luar negeri ternama yg mempercayakan ke SHS untuk mengisi lowongan & peluang pekerjaan yg ada di perusahaan tersebut. Ini bukti kualitas SHS!

8.    Semua mahasiswa dilatih juga untuk menjadi wirausaha2 yg sukses.

18 Juni 2009 Posted by | News & Event | Tinggalkan komentar

Ternyata Memasak Itu Tidak Gampang

Ungkapan ini disampaikan sejumlah peserta cooking class di Surabaya Hotel School (SHS) yang diikuti wartawati dari berbagai media massa, Sabtu (20/12).

”Biasanya saya sering beli makanan langsung jadi dan tinggal makan. Tapi setelah praktek masak sendiri, ternyata masak itu tidak gampang. Perlu kesabaran dan keahlian,” kata ANGGRAINI wartawati Surabaya Post pada suarasurabaya.net.

Meski begitu diakui AANG sapaan ANGGRAINI, memasak juga menyenangkan. ”Kalau menikmati hasil masakan kita sendiri dan rasanya enak, puas juga rasanya. Tapi saya saat ini belum PD (percaya diri–Red) kalau masakan saya enak bagi orang lain, nanti rasanya pas nggak karu-karuan,” ungkapnya sambil tertawa.

Hal senada dikatakan MANDA wartawati Surabaya City Guide. ”Yang pasti buat saya memasak itu menyenangkan. Bisa untuk hiburan. Bisa untuk menyenangkan anak maupun suami. Adanya cooking class di SHS ini nambah wawasan untuk lebih bisa berkreasi di rumah dengan menu-menu yang sudah diajarkan hari ini. Puas deh rasanya, gratis, dapat ilmu lagi,” ujarnya.

Sementara itu MARTHA wartawati Harian Surya yang datang terlambat merasa menyesal tidak ikut kegiatan ini mulai awal. ”Ya soalnya tadi pagi aku liputan dulu, jadi datang terlambat. Enak ya kalau ikut sejak tadi pagi. Sekarang hanya kebagian buat menu spaghetti saja,” ungkapnya menjelang cooking class selesai.

Cooking class yang diikuti lebih dari 10 peserta ini dibimbing langsung 3 instruktur SHS, yaitu ISDIYANTO Chef Hotel Inna Simpang, SUPRIYADI chef Sahid Hotel, dan DIBYO Chef Majapahit Hotel. Sesekali juga BAGUS SUPOMO Direktur Eksekutif SHS memantau selama kegiatan ini berlangsung.

”Ayo, gampang kok masak itu. Anggap saja ini sebagai hiburan. Kapan lagi bisa kayak gini, jangan hanya mburu berita terus. Kalau mau praktek di rumah bahannya juga mudah didapatkan, murah-murah, terjamin juga hiegenisnya, karena yang masak kita sendiri,” kata BAGUS SUPOMO menyemangati para wartawati tersebut.

Kegiatan yang digekar dalam rangka Hari Ibu ini, kata BAGUS akan dilaksanakan lagi jika para wartawati menghendakinya. ”Kalau mau lagi nggak apa-apa setiap Sabtu ke sini saja. Mau diajari menu apa? Tapi harus konsisten, harus kompak. Ya… paling tidak Januari-lah kita adakan lagi ya…!” kata BAGUS di-iya-kan para wartawati tersebut.


18 Juni 2009 Posted by | News & Event | 1 Komentar

Sambut Hari Ibu, SHS Ajari Wartawati Memasak

Surabaya, Minggu, 21/12/2008, natalia trijaji-jawakini

MELIPUT lalu menuliskannya jadi berita ibarat menu sehari-hari bagi wartawati. Namun memasak mungkin tidak, terutama bagi yang masih lajang, karena sibuk atau enggan. Banyak yang memilih makan di luar rumah dari pada memasak dengan alasan tak sempat atau capek.

Menyadari keadaan demikian, Surabaya Hotel School (SHS) menggelar cooking class (belajar memasak) bagi wartawati di Surabaya yang diikuti sekitar 10 orang dari berbagai media di dapur sekolah itu.

Direktur Eksekutif Surabaya Hotel School, Bagus Supomo, mengatakan kegiatan ini pertama kali digelar yang bertepatan dengan peringatan Hari Ibu. Bila para wartawati menghendaki, bisa dilaksanakan lagi. Ia ingin kegiatan ini berlangsung dengan cara menyenangkan.

Bagus mengajak wartawati untuk tak hanya memburu berita dan dikejar deadline, namun juga menikmati aktivitas lain yang bermanfaat bagi sehari-hari yaitu memasak. Jika bisa memasak, selain puas dengan hasil olahan sendiri, juga bisa menyenangkan keluarga.

“Orang mungkin tak selamanya jadi wartawati. Siapa tahu alih profesi yang berkaitan dengan makanan. Kalaupun tidak alih profesi, punya keahlian memasak bisa jadi selingan,” ujarnya.

Cooking class itu dipandu dengan telaten oleh tiga instruktur SHS yaitu Isdiyanto Chef Hotel Inna Simpang, Supriyadi Chef Hotel Sahid dan Dibyo Chef Hotel Majapahit. Menu yang diajarkan adalah membuat omelette (telur dadar dengan beberapa macam isi), mayonnaise, sandwich, hotdog, burger dan spaghetti.

Sebenarnya tak sulit bagi mereka yang biasa memasak, namun berbeda bagi wartawati yang lebih gesit meliput dan mengetik berita. Ada yang salah cara memegang dan mengiris paprika, bawang Bombay, atau kagok mengocok telur misalnya.

“Maklum biasanya pegang bolpen dan komputer,” komentar salah satu chef memaklumi yang disahut tawa para peserta lain.

“Ternyata memasak itu nggak gampang ya. Capek. Kalau tinggal makan, enak. Mending disuruh cari berita dan ngetik,” ujar seorang peserta sambil mengelap tangan dengan celemek.

Bagus memberi semangat para peserta dan ikut memantau kegiatan. Sesekali ia mencicipi hasil olahan. “Sudah enak, cuma kurang garam sedikit,” hiburnya. (lia/red)

18 Juni 2009 Posted by | News & Event | Tinggalkan komentar

MENGHINDARI PHK, BERWIRAUSAHALAH!

RESENSI dunia yang semakin dahsyat melanda hampir
semua negara di dunia membuat semua kalangan
merasakan dampaknya. Walau belum signifikan, namun
diprediksi akan semakin terasa akibatnya. Dari pejabat
hingga rakyat jelata, dari pengusaha sampai buruh kerja.

Harga bahan baku yang semakin merangkak  naik dan
daya beli masyarakat yang mulai menurun, membuat
para pengusaha mulai berpikir bagaimana cara menjaga
kestabilan keuangan perusahaan. Dari memangkas biaya produksi sampai mulai mengurangi jumlah karyawan, atau biasa kita dengar istilah eufitimistisnya “merumahkan” serta melakukan pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Cara terakhir inilah yang sering dilakukan para pengusaha. Mereka beranggapan inilah yang terbaik. Padahal dibalik itu semua, harusnya mereka sadari betapa banyak keluarga yang akan mereka korbankan untuk kepentingan perusahaan. Benar-benar keputusan yang sangat sulit di saat yang seperti ini.

Pemerintah pun hanya bisa menghimbau kepada kalangan pengusaha untuk tidak melakukan PHKdi saat seperti ini. Sekali lagi, hanya menghimbau . tidak ada langkah konkret yang dilakukan.

Sudah saatnya para buruh untuk berpikir luas dan lebih kreatif. Mulailah berpikir untuk berwirausaha. Para buruh tidak perlu takut untuk menghadapi baying-bayang ancaman PHK dari perusahaan, jika mereka bisa berwirausaha. Walau hanya usaha skala kecil, tentu sedikit demi sedikit akan berkembang. Jangan pernah lupa bahwa pengusaha-pengusaha yang saat ini mengaji dan memperkerjakan mereka adalah orang-orang yang dulunya mulai dari hal yang kecil. Masih banyak peluang usaha yang dapat digali. Masih banyak juga para pengangguran, terutama pengangguran terididik di Indonesia. Sehingga masih banyak peluang untuk mereka membantu para pengangguran keluar dari permasalahannya.

Seperti yang dikatakan oleh Purdi E Chandra dalam “Cara Gila Jadi Pengusaha”, memulai usaha bisa hanya bermodal semangat pantang menyerah dan bantuan doa. Jangan pernah berpikir bahwa yang namanya modal hanya berupa uang. (*)

Oleh : Pramudita Aulia, Mahasiswa Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia

Dikutip dari SINDO, 29 November 2008

18 Juni 2009 Posted by | News & Event | Tinggalkan komentar

SHS dikunjungi Menteri Ekonomi Belanda

Dihari jadi SHS ke-20 lalu, SHS mendapatkan kado special yaitu kunjungan Menteri Ekonomi Belanda pada hari Rabu tgl 12 November 2008.

Kedatangan Menteri M.Van der Hoeven merupakan suatu kehormatan & kebanggaan bagi SHS. Karena hanya SHS  satu2nya sekolah perhotelan  yg menjadi project PUM pertama dan yg dikunjungi Menteri .

Dalam kunjungannya ke SHS, selain untuk membicarakan program pendidikan yg ada di SHS, beliau juga berkeliling melihat fasilitas yg ada. Beliau sempat kagum karena fasilitas yg dimiliki SHS sejak SHS berdiri sampai sekarang, semuanya diupayakan secara mandiri, dan SHS tdk berorientasi bisnis. Beliau salut pada management SHS yg bisa menjalankan semua program pendidikan sekalipun SHS tdk berorientasikan bisnis tapi malahan masih bisa membantu mereka2 dari kalangan tidak mampu.

Bersamaan dengan kunjungan tersebut di launching juga “Lab. Komputer” untuk pelatihan “Front Office & Accounting”. Jadi saat siswa belajar tentang accounting dan front office, mereka bukan hanya belajar teori tp langsung bisa mempraktekan ilmu yg mereka dapat. Penggabungan antara teori & praktek sudah di terapkan SHS sejak awal agar alumni tdk canggung lagi saat mereka bekerja.

Di ruang House keeping, saat  melihat siswa2 yg sedang praktek making bed, sempat ada dialog antara siswa & Menteri. Menteri kagum akan cita2 serta keinginan mereka, karena rata2 stlh lulus dari SHS,mereka ingin bekerja di Kapal Pesiar Luar Negri ataupun di Hotel2 bertaraf Internasional. Mereka ingin sepert alumni SHS yg sdh berhasil duluan di negeri orang.

Begitu juga saat Menteri melihat kelas Fruit & Vegetables Carving, dimana saat itu kelas carving sedang praktek untuk mengukir buah.

Beliau sangat kagum akan kemahiran mahasiswa SHS yg dalam waktu singkat sdh bisa mengukir buah & sayur spt seorang yg professional.

Diakhir kunjungan beliau menyatakan senang bisa melihat semua fasilitas yg tersedia di SHS untuk membuat siswanya pintar serta cekatan dlm melakukan pekerjaan dengan biaya MURAH. Rangkaian Kunjungan ini adalah bentuk penghargaan PUM Belanda kepada SHS yg selama 2 thn ini telah diberi bantuan. PUM Belanda telah mengirimkan Senior Expert dalam bidang Pastry Bakery selama 2 minggu di SHS pada pertengahan Oktober-awal Nov’2008.

18 Juni 2009 Posted by | News & Event | Tinggalkan komentar

KERJA DI HOTEL TIDAK PERLU GELAR

sarjana Fakta di lapangan membuktikan bahwa banyak
perusahaan besar/ raksasa yang mempunyai
Reputasi serta prestasi yg hebat ternyata
dimiliki/ di kelola oleh orang2 yang tidak
“Bergelar“ tapi mereka adalah para
“Profesional” yg mempunyai “keahlian” khusus
di bidangnya serta “SIKAP MENTAL“  yang
tangguh guna mencapai Kesuksesan. Tapi
sebaliknya banyak orang yg gelarnya
ber-deret2  tapi “GAGAL“ mendirikan/
memimpin Perusahaan. Hal ini membuktikan bahwa tidak selamanya mereka yg bergelar selalu lebih pintar. Orang yg pendidikan formalnya sedang2 saja tapi kalau suka belajar sendiri (otodidak) maka orang tsb akan bisa menjadi pintar dan mungkin akan lebih pintar dari orang yg gelarnya ber-deret2 tapi malas belajar (Maaf, banyak cara INSTANT untuk dapat gelar & banyak juga orang yang suka cari gelar tapi malas belajar). Orang2 Profesional memang tdk mementingkan Gelar, tapi hasil kerja yg bagus sbg bukti Profesionalitas dan Kompetensi/ Keahlian mereka yg sangat tinggi. Demikian juga kerja di Hotel/ bid. Perhotelan. Bukan Gelar yg di pentingkan tapi kemampuan seseorang melakukan/ menyelesaikan berbagai macam pekerjaan yang menjadi tugas & tanggung jawab mereka di Hotel.

Setiap orang yg baru mulai kerja di Hotel di tuntut memiliki kompetensi di salah satu bidang kerja di Hotel. Itulah sebabnya mereka perlu banyak latihan/ praktek ketika masih sekolah. Semakin Profesional maka semakin tinggi kompetensi/ keahlian yg dimiliki serta  semakin banyak pekerjaan yg bisa di selesaikan seseorang. Itu hanya bisa di peroleh dari tempat kerja bukan SEKOLAH. Makanya para Profesional tdk mementingkan Gelar karena mereka tahu Profesionalitas itu di peroleh dari tempat kerja bukan karena Gelar. Jangan berharap lulus sekolah langsung jadi Manager kecuali mendirikan Hotel sendiri.

Lalu apa kaitannya dengan Sekolah Perhotelan ???

Sekolah Perhotelan yg dikelola/ dipimpin oleh orang2 yg bukan ahli di bidang Perhotelan kemungkinannya sangat kecil bisa mencetak calon tenaga2 kerja yg berkualitas di bid.Perhotelan. Sekalipun gelarnya berderet2 tp kalau pengelola/ pimpinan Sekolah Perhotelan tersebut tdk pernah kerja di Hotel jangan harap bisa membuat mahasiswa jadi pintar & terampil karena mereka sendiri tidak menguasai bidang pekerjaan tersebut. Bukan hanya sekedar pernah/ masih kerja di Hotel, tapi kompetensi/ Keahlian2 apa yg di kuasai. Kalau hanya bicara karena baca buku, banyak orang yg bisa. Tapi tidak setiap orang bisa mengerjakan apalagi melatih orang lain untuk bisa mengerjakan pekerjaan2 tersebut sementara dirinya sendiri tdk pernah mengerjakannya. Akibatnya adalah kualitas lulusannya patut di ragukan, sulit cari pekerjaan, banyak yg menganggur, melamar kerja kesana kemari tdk di terima, dsb.

Kalau sudah seperti ini biasanya jumlah mahasiswanya makin lama makin sedikit/ menurun atau memang sejak awal jmlh mahasiswanya tdk pernah banyak. Kalau peminatnya sedikit, biasanya mahasiswa yg di jadikan korban. Jumlah & Kualitas prakteknya di kurangi, karena memang praktek2 yg memerlukan biaya besar sementara sekolah/ lembaga kesulitan Financial dalam menutupi biaya2 operasionalnya  sehingga mutunya semakin menurun.

Sekalipun Gelarnya ber-deret2 tapi kalau sudah gagal mengelola suatu usaha/ lembaga Pendidikan apa masih mau mengaku pintar & Profesional ?

18 Juni 2009 Posted by | News & Event | Tinggalkan komentar

Kuliah Bagi Pengangguran

Motivasi Siswa untuk melanjutkan studinya di perguruan tinggi sangat beragam. Secara umum, ada dua motivasi yang melatarbelakanginya. Pertama, siswa yang benar-benar ingin mengembangkan profesionalisme keilmuannya.

Siswa yang sewaktu SMA memilih Program IPA kemudian ia ingin mendalami lebih lanjut tentang ilmu IPA maka ia berniat untuk kuliah di fakultas MIPA atau yang mendekati ilmu itu. Bagi siswa SMK Jurusan Manajemen Bisnis, maka ia memililih program studi di Fakultas Ekonomi, dan sebagainya.

Alasan kuliah seperti ini patut didukung dan diarahkan. Hal ini disebabkan siswa tersebut merupakan siswa yang benar-benar ingin belajar lagi dalam rangka memperdalam ilmu yang sudah dimiliki. Yang penting, jurusan yang diambil merupakan jurusan yang benar-benar sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Jangan sampai jurusan yang diambil adalah jurusan “rendahan” yang penting masuk PTN tanpa peduli jurusan yang diambil. Padahal ternyata jurusannya tidak “prospek” di masa depan.

Sedangkan motivasi kedua, adalah daripada menganggur di rumah, lebih baik kuliah. Hal ini biasanya bagi mereka yang ketika lulus SMA/SMK belum memiliki “konsep hidup” yang jelas. Mereka bingung mau kuliah dimana, mau mengambil jurusan apa, mau bekerja juga belum ada yang menawari, sehingga agar tidak kelihatan sebagai pengangguran, biasanya lalu memutuskan untuk kuliah. Kampus yang di pilih biasanya pun kampus “kecil” yang tidak terlalu banyak aturan macem-macem. Jurusan yang di pilih juga ngawur, tidak mempertimbangkan bagaimana prospeknya di masa depan. Akibatnya, akan banyak lahir generasi pengangguran professional yang terdidik.

Alasan motivasi kedua inilah yang sebenarnya akibat dari kegagalan pendidikan kita. Seharusnya, konsep pendidikan yang dibangun memiliki tujuan jangka panjang yang jelas. Bagi SMK, maka lulusannya harus benar-benar dirancang sebagai Tenaga terampil yang sudah siap kerja (pencipta lapangan pekerjaan), bukan dirancang sebagai pelamar kerja. Bagi SMA, maka lulusannya harus dirancang agar dapat melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi.

Kondisi pendidikan kita masih berantakan padahal UNESCO sudah memiliki visi untuk pendidikan dengan belajar berpikir, belajar hidup, belajar bagaimana berbuat dan bekerja, belajar bagaimna tetap hidup, dan belajar untuk hidup bersama-sama. Jadi, pendidikan tidak terbatas pada transfer pengetahuan tetapi juga membekali siswa dengan kesiapan untuk hidup di tengah masyarakat.

Di kutip dari Harian SURYA, Sabtu 12 Juli 2008

18 Juni 2009 Posted by | News & Event | Tinggalkan komentar

Bukti Keberhasilan Siswa SHS

Siapa yang tak kenal dengan Kudapan bernama bakso. Bola-bola daging yang mengambang dalam kuah gurih itu sangat mudah ditemui di mana-mana. Namun, meski sama-sama bernama bakso, setiap daerah mempunyai citarasa khas. Sebutlah, misalnya, bakso malang, bakso solo, bakso surabaya, bakso sukabumi, dan masih banyak lagi. Nah, bagaimana kalau banyak citarasa bakso bergabung menjadi satu dalam satu mangkuk?

Wachid Basir Krismanto yang biasa mendapat sapaan Cak To, mencoba memadukan dua citarasa bakso, yakni bakso solo dan bakso malang. “Bakso solo kuahnya lebih keruh dan kental karena bumbunya digoreng dulu. Sedangkan bakso malang kuahnya bening karena bumbunya memang mentah,” terangnya. Cak To mengaku butuh sekitar enam bulan untuk menemukan resep andalan hasil perpaduan dua cita rasa itu.

Selain soal rasa, merger bakso ala Cak To juga menawarkan beragam bakso. “Kami sudah mempunyai 23 jenis bakso,” ujar Cak To. Dia segera menyebut barisan nama bakso, di antaranya: bakso halus, bakso kasar, bakso puyuh, bakso mercon, bakso udang, serta bakso ikan.

Harga bakso Cak To yang membuka kedai di Jalan Pahlawan, Sidoarjo, Jawa Timur, ini pun relatif murah. “Harganya mulai Rp 5.500 hingga Rp 10.000 per porsi,” terangnya. Setiap hari, minimal ada 200 pembeli yang meramaikan kedai bakso yang memasang papan nama Bakso Kuto Cak To itu.

Cak To memang sudah lama bergelut di bidang kuliner. Bahkan dia bersekolah di Surabaya Hotel School, mengambil jurusan produk. Setelah lulus, Cak To mencoba mencari peluang di bisnis kuliner. “Saya sudah mencoba berbagai macam usaha makanan. Mulai dari tempe penyet hingga kafe anak muda,” ungkapnya.

Namun pada 2004, Cak To memutuskan fokus pada bakso. “Tahun itu, saya mulai fokus di bisnis warung bakso,” katanya. Ia memilih bakso lantaran jenis makanan ini lebih tahan banting dalam suasana apa pun.

Sepertinya, bakso memang menjadi bagian takdir Cak To. Atas permintaan para pelanggannya, Cak To lantas menawarkan kemitraan usaha Bakso Kuto Cak To sejak pertengahan 2006. Sekarang, kemitraan ini berkembang menjadi sembilan gerai. Cak To cuma mempunyai satu, sisanya milik mitra. Gerai tersebut tersebar di Semarang, Ponorogo, Madiun, Magetan, Gresik, dan seputar Surabaya.

Pembayaran fleksibel

Untuk menjadi mitra Cak To, Anda harus menyiapkan dana investasi sebesar Rp 35 juta untuk jangka waktu kerja sama enam tahun. “Nantinya, mitra akan memperoleh fasilitas senilai Rp 15 juta,” ujar Cak To. Di antaranya, etalase berbentuk gerobak, perlengkapan memasak, spanduk, banner, mesin kasir, seragam karyawan, neon box, hingga poster. “Kami juga sediakan produk awal senilai Rp 500.000,” imbuhnya.

Untuk membantu promosi, Cak To juga menyediakan voucher @ Rp 5.000 sebanyak 100 lembar. “Voucher ini bisa dibagikan ke siapa pun, terserah kepada mitra,” ujarnya.

Cak To juga memberikan pelatihan karyawan selama seminggu, mulai untuk kasir hingga koki. Perhitungan Cak To, mitra usahanya bisa balik modal sekitar satu hingga dua tahun. “Sebagai gambaran, omset satu gerai kami di hari biasa mencapai Rp 3 juta per hari. Pada akhir pekan, omset bisa sampai Rp 5 juta,” ungkapnya.

Untuk masalah fee royalti, Cak To membebaskan pungutan selama enam bulan pertama. “Setelah itu, besarnya 3% dari omset bakso saja,” imbuhnya.

Dalam usaha ini, sang mitra bisa mengolah sendiri bakso yang dijual. Namun, harus sesuai standar yang ditetapkan Cak To. Agar kualitas dan citarasanya sama, Cak To memasok langsung bumbu bakso. “Seminggu sekali, rata-rata mitra berbelanja bumbu untuk kuah Rp 1 juta, begitu pula bumbu untuk bakso,” ujarnya.

Cak To mematok harga setiap bumbu kuah Rp 12.000 per pak. Bumbu itu cukup untuk membumbui satu dandang kuah. “Harga bumbu baksonya Rp 15.000 per pak,” imbuhnya.

Agar tak memberatkan mitra, Cak To fleksibel melayani pesanan mitranya. “Boleh ambil barang dulu, bayarnya baru sebulan kemudian. Maksimal pembayaran tanggal 17 bulan depannya,” tuturnya.

Bagi mitra yang masa berlaku kemitraannya sudah habis, biaya yang diperlukan untuk memperpanjang kemitraan ini sebesar Rp 20 juta. Tapi mitra tidak memperoleh perlengkapan lagi seperti saat pertama kali bermitra. “Tapi, soal ini, kami masih bisa bicarakan lagi dengan mitra,” terang Cak To. (Fransisca Yuli Astuti)

===============
Bakso Kuto Cak To
Jalan Raya Pahlawan
Sidoarjo, Jawa Timur.
Telpon (031) 70793003

di kutip dari website Kompas – Senin, 9 Juni 2008

18 Juni 2009 Posted by | News & Event | Tinggalkan komentar

Kuliah Singkat, Kerjapun Dapat

SURABAYA HOTEL SCHOOL
Kuliah Singkat, Kerjapun Dapat
di kutip dari Harian Kompas, 30 Juni 2008

Kalimat tersebut bukan slogan kosong bila melihat kenyataan di Surabaya Hotel School atau SHS. Tak satu pun lulusan SHS yang kesulitan mencari kerja. Lembaga pendidikan dan pelatihan tenaga profesi perhotelan itu bahkan selalu kekurangan lulusan untuk memenuhi permintaan kerja.

Direktur Eksekutif SHS Bagus Supomo menunjukkan daftar permintaan tenaga kerja yang mengalir ke SHS. Pada Maret 2008, SHS menerima permintaan tenaga kerja dari 60 perusahaan. Setiap perusahaan rata-rata meminta tiga hingga empat tenaga kerja perhotelan. Artinya, pada Maret saja, SHs menerima permintaan sebanyak 200 tenaga kerja perhotelan.

Setiap bulan, kata Bagus, SHS menerima rata-rata 150 permintaan tenaga kerja dari hotel, restoran, rumah sakit internasional, maupun kapal pesiar. Dalam setahun, jumlah permintaan tenaga kerja ke SHS rata-rata mencapai 1.800 orang. Padahal, SHS hanya mampu meluluskan sebanyak 750 mahasiswa per tahun. “Itu sudah jumlah maksimal mahasiswa yang bisa kami tampung.” Kata Bagus di Surabaya, Sabtu ( 28/6)

karena jumlah lulusan yang sangat terbatas, tak jarang perusahaan bersedia mempekerjakan atau memesan mahasiswa yang belum lulus. Tak jarang pula mahasiswa SHS bekerja selagi menyelesaikan pendidikannya. Jenis-jenis pekerjaan itu meliputi kasir, pramugari kapal, perancang desain interior, sampai general manajer hotel.

Secara umum, pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan itu memang masih dipandang sebagai pekerjaan kelas dua di Indonesia. Sebagian besar lulusan sekolah menengah atas masih dituntut meraih gelar sarjana. “Namun, justru tenaga kerja yang terampil itu yang sekarang di cari, “Kata Bagus.

Khusus di bidang perhotelan, kata Bagus, orang dihargai untuk apa yang bisa ia lakukan, bukan apa yang ia ketahui. “Jadi pintar saja tidak cukup. Buktinya sekarang banyak sarjana yang nganggur,” kata Bagus yang mendirikan SHS bersama dua sahabatnya, Lukman Hakim dan Bambang Hermanto.

Keterampilan Spesifik

Menurut Bagus, pekerjaan di bidang perhotelan sangat spesifik dan membutuhkan keterampilan khusus. Pekerjaan membersihkan kamar di hotel pun memiliki prosedur ketat demi kepuasan dan privasi pelanggan. Akuntansi perhotelan pun, tak akan bisa di selesaikan oleh sarjana akuntansi sekalipun, bila tidak memiliki pengetahuan di bidang perhotelan.

Ini karena usaha perhotelan sangat berbeda dengan jenis usaha lainnya. Hotel tak hanya menjual barang, tetapi juga jasa. Karyawan hotel pun harus mampu memberikan pelayanan yang memuaskan pelanggan.

Bagus mengatakan, orang indonesia sebenarnya sudah memiliki modal dasar untuk menjadi tenaga kerja yang andal di bidang perhotelan. “Perusahaan asing sangat suka tenaga kerja asal Indonesia karena mereka terkenal ramah, sopan, religius, dan mau kerja keras,” kata Bagus.

Sekitar 30 persen lulusan SHS bekerja di luar negeri, mulai dari Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia. Bahkan, pada awal 2008, International Enterprise Singapore di bawah kementrian Industri dan Perdagangan Singapura berkunjung untuk menjajaki kemungkinan kerja sama dengan SHS.

Modal dasar itu kemudian dipoles dan diperkaya dengan berbagai keterampilan di SHS. Dengan masa pendidikan satu tahun, mahasiswa memperoleh 19 Materi Wajib, Sebagian besar mata kuliah disajikan dalam bentuk praktikum oleh 70 Instruktur SHS yang seluruhnya praktisi di bidang perhotelan.

Di Tuntut Berpikir

Namun, Keterampilan tanpa otak akan membuat tenaga kerja tidak kreatif. Oleh Karena itu, selain padat praktikum, proses pengajaran di SHS juga menitikberatkan pada pemecahan masalah.

Setiap bulan, mahasiswa dituntuk berpikir untuk mencari akar permasalahan yang diberikan dan mencari jalan keluarnya. Tatap muka dengan pengajar di SHS hanya berupa diskusi. “Koki yang terbiasa berpikir akan mampu membuat kreasi-kreasi masakan baru, bukan menu yang standar, sehingga pelanggan tidak bosan, ” kata Bagus.

Peminat Meluap

Setiap tahun ajaran baru, SHS menerima lebih dari 1.000 pendaftar atau 25 persen lebih banyak dari kapasitas yang tersedia

18 Juni 2009 Posted by | News & Event | Tinggalkan komentar

CURRICULUM

PROGRAM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SHS menyelenggarakan dua jenis pendidikan dan pelatihan, yaitu:

1. Program Khusus yang terdiri dari:

a. Jurusan F&B Service/Bartending
Jurusan ini mempelajari dan melatih ketrampilan di bidang Restoran dan Bar. Diharapkan lulusan menguasai kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan yang bersifat rutin dan mampu memecahkan masalah yang terjadi di lingkungan kerjanya.

b. Room Division
Jurusan ini mempelajari dan melatih ketrampilan di bidang Tata Graha dan Kantor Depan. Diharapkan lulusan menguasai kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan yang bersifat rutin dan mampu memecahkan masalah yang terjadi di lingkungan kerjanya.

c. F&B Product
Jurusan ini mempelajari dan melatih ketrampilan di bidang Tata Boga. Diharapkan lulusan menguasai kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan yang bersifat rutin dan mampu memecahkan masalah yang terjadi di lingkungan kerjanya.

d. Pastry & Bakery
Jurusan ini mempelajari dan melatih ketrampilan di bidang Patiseri. Diharapkan lulusan menguasai kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan yang bersifat rutin dan mampu memecahkan masalah yang terjadi di lingkungan kerjanya.

2. Program Umum Perhotelan yang terdiri dari:
Jurusan ini mempelajari dan melatih ketrampilan di bidang Restoran, Bar, Kantor Depan, Tata Graha, Tata Boga, Patiseri dan Kasir. Diharapkan lulusan menguasai kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan yang bersifat rutin dan mampu memecahkan masalah yang terjadi di lingkungan kerjanya.

KURIKULUM
Kurikulum merupakan komponen startegis dalam proses belajar mengajar serta sangat mempengaruhi terhadap arah dan hasil suatu proses pendidikan dan pelatihan, oleh karena itu kurikulum sangatlah penting disamping hal-hal lain seperti instruktur, peralatan dan fasilitas pendukung lainnya.

Kurikulum SHS adalah satuan perencanaan pelajaran dan pelatihan serta penilaian yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar dan berlatih.
Struktur kurikulum SHS didasarkan pada kompetensi pada masing-masing jabatan pekerjaan yang ada di industri perhotelan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

A. Umum

  1. Sikap, Nilai,Tanggung Jawab dan Kepribadian yang mantap guna menunjang pekerjaan.
  2. Wawasan, Pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan jabatan pekerjaannya.

B. Khusus
1. Program Khusus

Lama: 12 Bulan
Jurusan:
- Food & Beverage Service/Bartending
- Room Division
- Food Product
- Pastry & bakery

Kurikulum:
- Umum:

  1. Bahasa Inggris
  2. Pembinaan Sikap Profesi
  3. Kewirausahaan
  4. Job Training

- Ekstra Kurikuler:

  1. Table Manner
  2. Casual
  3. Juggling/Flair (Khusus F&B Service/Bartending)

- Khusus:

  1. Food & Baverage Service/Bartending
    a. Restaurant
    b. Bar
  2. Room division
    a. Front Office
    b. Housekeeping
  3. Food Product
    a. Continental Cooking
    b. Japanese Cooking
    c. Dim Sum
  4. Pastry & Bakery
    a. Pengolahan Kue & Roti
    b. Dekorasi Kue

2. Program Umum Perhotelan
Lama: 18 Bulan
Jurusan: Perhotelan
Kurikulum:
- Umum:

  1. Bahasa Inggris
  2. Bahasa Mandarin
  3. Pembinaan Sikap Profesi
  4. Kewirausahaan
  5. Hotel Manajemen
  6. Pemasaran Hotel
  7. Job Training

- Ekstra Kurikuler:

  1. Table Manner
  2. Casual
  3. Juggling/Flair (Khusus F&B Service/Bartending)

- Khusus:

  1. Front Office
  2. Housekeeping
  3. Restaurant
  4. Bar
  5. Food Product
  6. Pastry & Bakery
  7. Japaneses Cooking
  8. Dim Sum
  9. Hotel Management & Information System
  10. Fruit & Vegetable Carving

KELULUSAN
Mahasiswa dinyatakan lulus jika telah mengikuti ujian semua materi yang diberikan baik program Khusus maupun program umum Perhotelan dengan nilai minimal 60 (enam puluh) dan juga sudah berhasil mengikuti Praktek Kerja Lapangan dengan bakti Sertifikat Praktek Kerja Lapangan dari Industri (Hotel, Restaurant, Bar, Catering atau Rumah Sakit) yang bersangkutan.

CASUAL
SHS mempunyai program casual, yaitu bekerja paruh waktu pada hotel, restoran, bar, rumah sakit dan catering sesuai dengan permintaan dengan mendapat honor dari pihak industri sebagai uang transport. Program ini bertujuan untuk memberi pengalaman kepada mahasiswa melayani tamu dan bekerja di industri sehingga mereka akan lebih terampil, siap bersaing mencari kerja, bukan semata-mata mencari uang.

Untuk bisa mengikuti program ini, mahasiswa harus mengikuti pelatihan casual di SHS selama 1 (satu) hari mulai dari pukul 10.00 sampai dengan pukul 18.00 dan mahasiswa yang mengikuti program ini tidak diperbolehkan mengikuti casual kalau ada kuliah. Mereka harus mementingkan kuliah dari pada casual, jika tidak maka dianggap absen.

KESEMPATAN KERJA
SHS sejak berdirinya sampai sekarang sudah meluluskan ribuan yang alumninya telah menyebar keseluruh pelosok Nusantara bahkan keseluruh dunia sebagai karyawan hotel, restoran, bar, rumah sakit, catering maupun kapal pesiar. Kedepannya SHS akan menyiapkan mahasiswanya untuk lebih siap bersaing bukan hanya di dalam negeri tapi di luar negeril dengan cara menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri jasa pelayanan terkini.

Untuk membantu mahasiswa mendapat kerja, SHS mempunyai Program Bursa Kerja. Setiap bulan sekitar 45 perusahaan minta tenaga kerja, peluang-peluang ini kami berikan kepada semua mahasiswa, bahkan kepada masyarakat umum yang membutuhkan pekerjaan, tanpa di pungut biaya apapun. Hal ini SHS lakukan sebagai tanggung jawab moral tidak hanya kepada mahasiswa dan alumni, tapi juga masyarakat luas.

UJIAN
Mahasiswa SHS diperkenankan mengikuti ujian jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Lunas atau telah membayar angsuran pendidikan dan pelatihan sampai dengan bulan dimana ujian diselenggarakan.
  2. Jumlah ketidakhadiran tidak lebih dari 25% setiap mata kuliah. Jika tidak boleh mengikuti ujian karena jumlah ketidakhadiran lebih dari 25%, maka yang bersangkutan harus mengulang di kelas berikutnya mulai dari awal dan dikenai denda uang sebesar Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) per mata kuliah. Ketidakhadiran dimaksud meliputi : casual tetap maupun tidak tetap dan tidak masuk tanpa ijin/pemberitahuan kepada SHS.

PRAKTEK KERJA LAPANGAN
Praktek Kerja Lapangan atau On The Job Training adalah kegiatan nyata di lapangan (hotel, restaurant, bar, rumah sakit atau usaha-usaha lain di bidang pelayanan) untuk memperoleh pengetahuan teori maupun praktek sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta profesionalisme sesuai dengan jabatan pekerjaannya.

Praktek Kerja Lapangan ini dicarikan dan ditentukan oleh SHS baik di Surabaya maupun diluar Surabaya yang lamanya 6 bulan baik untuk program Khusus maupun program umum Perhotelan. Mahasiswa hanya boleh memilih jabatan pekerjaan yang ada di industri yang sesuai dengan jurusannya.

Penetapan/penentuan tempat dan waktu Praktek Kerja Lapangan /On The Job Training ditentukan oleh Pimpinan SHS tanpa dapat diubah/diganti. Bagi mahasiswa/i yang menginginkan di luar jawa timur, yang bersangkutan mengajukan permohonan 3 bulan sebelum waktu Praktek Kerja Lapangan disertai surat persetujuan dari orang tua/wali.

Jika pihak industri minta biaya akibat Praktek Kerja Lapangan, maka SHS akan menanggungnya dengan membayarnya kepada industri.

28 Maret 2009 Posted by | Curriculum | Komentar Dimatikan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.